sebelum membaca postingan ini, mohon maafkan saya karena gak tau harus memberikan judul apa buat postingan ini.

aku termenung di atas pasir putih memandang ke laut lepas. sesaat lagi mentari akan menghilang. begitu agung karya keagungan-Nya. keindahan yang mungkin takkan pernah lagi bisa kunikmati. kuusap lembut perutku yang membuncit.
“maafkan aku anakku. dosa ini harus kau tanggung.”, ucapku lirih.

***
delapan bulan yang lalu
dia melenguh panjang dan menghempaskan tubuhnya menindihku. aku mengutuk diriku sendiri karena membiarkan dia mengaliriki kerongkonganku dengan bergelas2 Black Label hingga akhirnya aku tak mampu lagi mengendalikan diriku sendiri.
aku hanya bisa pasrah ketika dia mengajakku check in dan mulai menggelutiku. sungguh, aku menikmati semuanya itu. penyesalan itu mulai menghampiriku ketika kesadaranku mulai pulih. sayang, semuanya sudah terjadi.
aku bersumpah dalam hati bahwa malam ini untuk terakhir kalinya aku membiarkan tubuhku dinikmati pria2 bangsat itu. tapi beberapa hari kemudian sumpah itu kulanggar lagi dan lagi. semuanya terasa begitu menyenangkan dan penuh kenikmatan sampai aku mulai bisa mengendalikan diri dan menyadari semuanya.

tujuh bulan yang lalu
vonis itu akhirnya dijatuhkan kepadaku.
“maafkan saya nona. saya harus bilang bahwa anda mengandung. satu hal lagi, anda dan anak dalam kandungan anda positif HIV”, ujar sang dokter dengan nada prihatin.
aku hanya bisa menunduk memegang perutku dan mengalirkan airmata.

***

satu hal yang patut aku syukuri adalah kepedulian yang diberikan keluargaku. orang tuaku yang awalnya nyaris mengusirku dari rumah akhirnya bisa menerima kondisiku dan memberikanku semangat untuk mempertahankan janin yang ada dalam kandunganku. aku tak tau siapa yang harus kumintai pertanggungjawaban dan bertekad untuk mengasuh anak ini hingga akhir hidupku yang tinggal sebentar.
tapi, hanya keluargaku yang memperlakukanku dengan baik. semua orang yang pernah aku kenal, teman2 kampus, teman2 di kehidupan malamku, pria2 yang pernah ikut menamkan benih di rahimku, semuanya menjauhiku. meninggalkanku dan setiap kali berpapasan denganku selalu memandangku dengan pandangan jijik. aku heran. banyak dari mereka yang juga menjalani kehidupan yang sama denganku sebelum aku mendapatkan vonis itu. tapi merasa dirinya bersih karena tidak sampai menderita penyakit mematikan ini.
aku hanya bisa sabar dengan perlakuan mereka. toh itu hak mereka. bagi mereka, akulah wanita ternista di dunia ini dan mereka adalah orang2 suci dan bersih.

aku melangkahkan kakiku menyusuri pantai yang penuh kenangan masa kecilku ini. di sinilah aku menumpahkan semua kepahitanku. membiarkan semuanya disapu ombak dan dibawa ke laut lepas.
bulan belum juga menampakkan dirinya. seolah2 enggan membagi sinarnya menerangi kegelapan hidupku.
dering hp membuyarkan lamunanku. ibu mulai khawatir.
“iya Bu…………….. aku pulang sekarang….”.

_______________________________

cerita ini hanya sebuah imajinasi liar yang muncul dari otakku, namun aku yakin ada seseorang entah dimana yang mungkin sedang mengalaminya. divonis sebagai pengidap AIDS, ditinggalkan orang2 di sekelilingnya dan dianggap sebagai sampah. tak ada yang mau berdekatan dengannya. bahkan mendengar namanya pun membuat orang ingin muntah.
itulah perlakuan yang biasa diterima oleh para pengidap AIDS. betapa kejam penghakiman yang diterima. ada yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya secepat mungkin. tapi ada juga yang tetap survive dan melakukan sesuatu yang sungguh amat mulia. berusaha menjadi pembawa kebahagiaan bagi orang lain sekalipun kebahagiaanya telah direnggut oleh AIDS.
apakah kita pantas memperlakukan mereka seperti itu? tidak. tentu saja tidak. mereka tidak butuh dikasihani tapi ingin diterima. mereka tidak butuh kata2 yang mengungkit masa lalu mereka tapi mereka butuh kata2 yang mampu membangkitkan motivasi mereka untuk terus menjalani hidup ke depan.

mudah2an kita bukan termasuk dalam gerombolan manusia2 sok suci yang memandang mereka sebagai manusia2 hina dan harus disingkirkan dari muka bumi.

*ditulis dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia*